MERAHASIAKAN SHADAQOH



Suatu ketika, pada saat Allah menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar.
Lalu Allah menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam.
Para malaikat terheran akan penciptaan gunung tersebut.
Kemudian mereka (Malaikat) bertanya : “ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”
Allah menjawab, ada, yaitu “besi”.
Para Malaikat kembali bertanya, “ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?”.
Allah menjawab, ada, yaitu “api”.
Bertanya kembali para malaikat, “ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”.
Allah menjawab, ada, yaitu “air”.
“Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada air?” tanya malaikat.
Allah menjawab, ada, yaitu “angin”.
Akhirnya para Malaikat bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”.
Allah Yang Maha Rahman menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang diberikan oleh tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya”.

Dari Hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik

JIWA YANG RAPUH


Dinginnya malam dan cahaya redup bulan mengantarkan aku untuk kembali tidur,
Seperti hari-hari yang lalu, hanya keheningan dan doa yang menemaniku,

Ini adalah mimpiku semalam,
Seorang wanita yang hatiku mencintainya datang menghampiriku,
Dengan wajah yang syahdu dan suara yang lembut ia menyapaku,

Aku telah mengenalnya sejak masa-masa kuliah,
Aku telah mengikutinya bersama perjalanan waktu,
Aku melihat sinar wajahnya di halaman buku-buku yang aku baca,
Dan aku mendengar suaranya di dalam bisikan aliran sungai dan kabut pagi,

Surat cinta yang engkau tulis untukku masih tetap kusimpan di dalam kotak berwarna merah bersama sekuntum bunga edelweiss dan batu karang,
Pandangan pertamaku kepadamu bukanlah dalam kebenaran yang pertama,
Waktu dimana hari kita bertemu,
Saat hanya kebisuan yang menemani kita,
Telah menguatkan harapan akan akhir yang bahagia,

Namun engkau telah pergi,
Engkau telah memilih taqdir hidupmu,
Pergi menyusuri lembah kebahagiaan,
Pergi berlayar menuju samudera kehidupan,

Seperti sebuah puncak gunung bagi seorang pendaki,
Akan tampak lebih agung saat terlihat dari kejauhan,
Dan dari kejauhan jarak dan waktu ini,
Aku berdoa semoga engkau bahagia,

PERSAHABATAN ITU MAHAL



Sahabat adalah kebutuhan jiwa,
Dialah ladang hati,
Yang kau tanam dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa syukur (Kahlil Gibran, Sang Nabi).

Sahabat, masih ingatkah engkau saat kita melewati badai di puncak Mahameru,
Ketika aku sakit di hutan Burangrang, dan aku sudah tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan.
Sahabat, engkaulah yang mencambukku hingga aku mampu untuk berjalan.
Masih ingatkah engkau saat kita berdua duduk di pinggiran sungai di kedalaman hutan?
Saat kita bicara tentang masa depan,
Dan engkau berkata : ‘Jangan khawatir kawan, bahwasanya Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Tuhan sedang menyusun skenario terbaik untuk memilihkan teman terbaik untuk bersamamu menghadapi ombak di samudera kehidupan’.
Teman sejati selalu ada saat kita benar-benar memerlukan,
Yang mengerti saat kita berkata ‘aku lupa’
Yang tetap setia menunggu saat kita berkata ‘tinggalkan aku sendiri’
Sahabat, engkau tidak akan dapat mengerti bahwa bahasa jiwaku lebih dalam,
Yang tidak mungkin aku rangkum dalam sebuah tulisan prahara ini,
Dan saat aku menemui titik-titik embun pagi,
Saat aku kembali menemukan fajar hari dan gairah segar kehidupan,
Saat itu aku ingin kembali menemui engkau Sahabat.

Selamat tinggal Al-Faraby


1 tahun telah usai, ketika tidak ada hari-hari yang sama saat bersama mereka. Ketika canda, tawa, tangis menjadi bagian dalam perjalanan ini.
‘Aku mengajar untuk memberi  suara kepada mereka yang tidak didengarkan
Aku mengajar untuk mencetuskan imajinasi
Aku mengajar untuk menggali pertanyaan yang menantang’
Teman-teman kecilku, jika saja kalian mengerti bahwa aku adalah seorang manusia yang peduli saat kalian hadir di kelas ini, Yang peduli saat kalian memaksimalkan potensi yang kalian miliki, Yang peduli saat kalian menunjukkan rasa hormat kepada diri sendiri dan orang lain.
Aku cukup mencintai anak-anak orang lain hingga mau melakukan sesuatu seperti yang akan aku lakukan untuk anakku sendiri (walaupun sebenarnya aku belum berkeluarga). Berjuang untuk mereka, mendidik mereka, melindungi mereka, dan bekerja untuk memberikan yang terbaik untuk mereka. Hal seperti itu membutuhkan keberanian secara fisik, keikhlasan secara psikis, dan juga emosional.
‘Orang dewasa akan mudah melupakan apa yang telah kita lakukan,
Melupakan apa yang telah kita katakan’
Tetapi teman-teman kecilku  tidak akan pernah melupakan apa yang mereka rasakan  dalam 1 tahun ini.
Hal yang terpenting yang diberikan oleh guru bukan hanya apa yang tertulis pada nilai ulangan atau rapor, melainkan apa yang telah tertulis pada hati anak didik mereka, (Judi Joerding).
Selamat tinggal Al-Faraby !
Aku akan sangat merindukan kalian teman-teman kecil ku !!
Namun, hubungan antara murid dan guru tidaklah berakhir saat mereka meninggalkan kita, karena ini adalah bentuk hubungan yang bertahan sangat lama, ( Celine Robertson).

KETERASINGAN

Keterasingan yang aku dapatkan dalam keterpencilan hutan
Bukanlah sesuatu tanpa jiwa
Tetapi ada satu keniscayaan dalam kontemplasiku
Sebuah negeri indah yang aku dambakan

Aku hanyalah orang asing
Asing bagi mereka, karena bahasa jiwaku tidak dapat mereka pahami
Setiap aku bangun dibelai kabut pagi yang menyisihkan malam
Saat itu aku merasa terbelenggu bagai tahanan di dalam gua
Para singa menjaga pintunya
Ketika aku dapat keluar, aku merasakan sakit pada mataku
Sakit karena diluar terdapat gerhana yang tak kunjung berganti matahari musim semi
Gerhana dari manusia yang menghalangi kebenaran jiwa sempurna

Aku akan pergi bersama keterasinganku mencari sunyi, berdoa, dan memanjatkan bait-bait suci keatas langit
Aku mencari sunyi
Untuk menghindari mereka yang memicingkan mata dari kerendahan hati

Biarkan aku menjalani hidup mencari gunung
Dimana keletihan adalah kekuatan dari Tuhan
Tetapi aku tidak akan mengajakmu

BICARALAH KEPADAKU

Dari fatamorgana malam, kubentuk seorang wanita
Dengan wajah berbinar, suara yang syahdu, dan sentuhan yang lembut
Telah mengambil tempat dari nafas-nafasku

Sejak saat itu,
Aku melihatmu berdiri di pinggir balai dipan ini
Dan kudengar suaramu dalam keheningan malam

Didalam diriku tercipta kembali satu kerinduan yang mengalir bersama jiwa
Dan berlari dalam lautan mimpi
Didalam jiwa ini telah dikenakan mahkota kerinduan
Yang dipahat para bidadari dari karang-karang mimpi

Akankah kini engkau telah berubah?
Ketika sekian lama kasihmu menjadi melodi-melodi manis yang mengisi kesendirian jiwaku
Menjadi sayap bagi jiwa ini

Bicaralah kepadaku
Apakah engkau tetap akan mengingatku setelah badai itu?
Mendengar dan merasakan nafas jiwaku pada wajahmu
Bicaralah

SEKOLAH HARI INI

Hitam, kelam , diam, pasrah
Ketika kebodohan untuk mereka
Saat kesempatan sekolah menjadi hak mereka
Mampukah mereka masuk ke gedung itu

Ketika butir-butir nasi kemarin, kembali mereka makan hari ini
Ketika untuk bernafas, mereka harus memperebutkan udara

Begitu megahnya gedung itu
Sehingga sepatu mereka yang kotor dan robek tidak boleh menginjak lantainya
Ketika buku yang mereka pinjam dari tetangga tidak terpakai lagi hari ini
Saat baju lusuh yang dikenakan tidak diperbolehkan bergaul dengan sutera-sutera disana

Hitam, kelam, diam, pasrah
Tuhan, masih adakah kesempatan untuk mereka agar dapat membaca?