Mungkin jika engkau mendengar, kemudian engkau mengetahui apa yang aku suarakan "mengapa anak-anakmu mati?"
Mungkin jika jiwamu disana saat mendengar,
Pernahkah hatimu memberi perhatian pada kemarahan dan ketakutan mereka
Jasadmu menemukan sesuatu untuk menyalahkan dan meletakan kesalahan
Tetapi musuh yang engkau cari mentertawakan semuanya
Saat anak-anakmu masuk kedalam usus besar bumi yang gelap, kemudian mencoba keluar terbang dengan setengah nyawa dan sayap yang patah menuju angkasa, lalu lelah
Maka lihatlah!
Keringat-keringat yang menetes dari dahi mereka mengukir kalimat ditanah kerontang
"Siapa yang mencintai aku"
Orang-orang dirumah kaca seharusnya tidak melempar lintingan ganja
Tetapi lihatlah, grafity ditembok jalan
Apakah memberikan mereka rumah?
Abaian telah menjadikan mimpi-mimpi mereka buruk
Begitu mengiba, mengambil nyawa
Demi kamu
Menangislah dimulut-mulut mereka
Air mata-air mata ternoda
Kedalam hati-hati yang kerontang
Di hening yang menganga menjadi resah, kemudian lembab yang tersekap gelap
"Ya الله, sembuhkanlah aku, karena Engkau adalah Dzat yang menyembuhkan. Dan selamatkanlah aku, karena Engkau adalah Dzat yang menyelamatkan".
"Ya الله, jika Engkau sakitkan aku untuk mencabut Ruh-ku dalam sakitku ini, maka jadikanlah Ruh-ku ini termasuk Ruh orang-orang yang memperoleh kebaikan dari-Mu, dan lindungilah aku, sebagaimana Engkau telah melindungi orang-orang yang telah memperoleh kebaikan dari-Mu".
Saat yang dinantikan akhirnya tiba!! Apa itu?? Ya. . . liburan sekolah! Setelah selesai membagi rapor di sekolah, sekarang saatnya menikmati liburan. 2 minggu. . . Liburan yang cukup lama dan juga akan sedikit membosankan jika tidak ada kegiatan yang berkesan. Tawaran untuk ikut arung jeram di sungai Cisadane dari teman-teman di kampus langsung aku setujui.
Sabtu pagi tanggal 02 Januari di tahun baru 2010, teman-teman berangkat dari kampus. Oh ya. . . kampus aku kampus yang banyak menghasilkan akitivis dan praktisi pendidikan! Kampus hijau Universitas Negeri Jakarta. Jika teman-teman banyak yang berangkat dari kampus, aku menyusul langsung ke lokasi bersama seorang teman.
He..He.. setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya aku sampai juga di lokasi. Oh ya. . . sungai Cisadane tujuan kami terletak di Bogor tepatnya di desa Bantar kambing. O o w. . . ternyata teman-teman sudah melewati satu trip pengarungan (salah aku juga sih. . . berangkatnya jam 10 pagi sedangkan teman-teman ku berangkat jam 8 pagi dari kampus).
Setelah sempat istirahat sejenak dengan meminum segelas kopi hangat (suasana yang tepat karena di lokasi kami diguyur hujan yang cukup deras). Belum sempat menghabiskan segelas kopi, aku dilemparkan sebuah pelampung.
Langsung pakai Ka Amin pelampungnya! Ucap Wahyu. (Seorang adventurer yang lebih senang bepergian ke alam dibandingkan duduk manis di bangku kuliah, sampai-sampai terlambat untuk lulus kuliah. . .hehehehe).
Tunggu sebentar, saya belum shalat dzuhur! Ucapku.
Setelah selesai shalat, aku langsung mengganti pakaian dan memakai perlengkapan pengarungan. O o w. . . hujan bertambah deras, debit air di Cisadane bertambah tinggi.
Ada tiga perahu yang kami bawa dari kampus ( 2 perahu merk Basemarine warna merah dan 1 perahu westpoint warna kuning hitam ). Setelah mengecek perlengkapan safety prosedur dan tentu saja berdoa terlebih dulu kami langsung mendayung karena sudah tidak sabar lagi untuk merasakan riam dan jeram-jeram liar dalam pengarungan ini.
Yang dijadikan patokan mendayung Aris. Ucap Rudy yang saat ini menjadi Skipper (pengendali perahu).
Oke. . .!!! ucap kami semangat.
Jadi Skippernya yang bagus dong Ka Rudi. . .! Ucap Novi. (hahaha. . . yang sebenarnya juga tidak terlalu pandai untuk menjadi Skipper).
Lihat sebentar lagi kita sampai di jeram Naga (sebutan yang diberikan oleh kami karena jeramnya yang begitu liar dan ganas). Yupz…!!! teriak kami kompak.
Novi, kamu tukar tempat dengan aku ya! ajak aku kepada Novi.
Iya Ka!! jawab Novi.
Akhirnya aku duduk di belakang sebelah kiri tepat disamping Skipper.
Hantaman awal jeram Naga berhasil kami lewati dengan berteriak puas. Namun hantaman berikutnya tidak berhasil kami lalui. Kepala perahu menabrak bongkahan batu yang menyebabkan perahu kami langsung miring ke kiri dan langsung terbalik ( Flip ). Sempat berada di bawah perahu yang terbalik dan meminum air sungai Cisadane, aku melawan untuk harus bisa keluar dari situasi ini. Yah. . . Alhamdulillah aku bisa keluar dari bawah perahu. Aku langsung memanggil teman-temanku untuk memastikan mereka tidak ada yang dibawah perahu. Alhamdulillah mereka semua sudah berada di luar perahu yang terbalik. Namun situasinya belum berakhir, aku kehilangan dayung dan helm yang menjadi tanggungjawabku.
Ka Amin, ini helmnya ucap Tiolas (satu-satunya wanita berjilbab yang bersama kami di perahu).
Ka Amin, ini dayung ngga tau milik siapa, tapi pegang saja dulu!! Ucap Aris (laki-laki yang sedikit gondrong, maklum anak Fakultas Teknik).
Semuanya menjauh dulu dari perahu!! teriak Rudy. ( Rudy berusaha untuk membalikkan perahu kembali ke posisi normal atau dalam istilahnya flop ).
Saat kami semua melepaskan tangan dari perahu, situasi benar-benar kritis, kami semua terbawa arus dan Rudy ternyata belum berhasil membalikkan perahu ke posisi normal kembali. Aku hanya bisa melihat ke depan dan aku melihat di depan ku ada Novi (kami berdua yang terbawa arus paling jauh). O o w. . . Novi sudah berhasil menggapai batu besar. Aku bagaimana. . . tenang. . . الله maha baik! Setelah tergulung jeram dan berjuang dalam situasi ini akhirnya aku berhasil meraih bongkahan batu besar. Alhamdulillah. . . ya Rabb. Aku melihat ke belakang, he he he. . . perahu karetnya sudah normal kembali dan teman-teman ku sedang merescue Novi. Selesai merescue Novi dilanjutkan untuk merescue diriku. Sempat mengalami kesulitan karena rescue rope selalu gagal dilempar dengan sempurna. Kurang dari 15 menit proses rescue berhasil, semua awak dan perlengkapan safety prosedur tidak ada yang terbawa arus. Namun kamera digital milik Tiolas basah terendam air di dalam dry bag.
Ka Kuceng sih ngga benar waktu menutup dry bag ! Ucap Tiolas kepada Kuceng ( panggilan akrab Ahmad Kurniawan, seorang alumnus Teknologi Pendidikan).
Sudah nanti di service di Jakarta. Jawab Kuceng.
Oke. . . kita sudah tertinggal jauh dari 2 perahu di depan, tidak ada lagi istirahat yah!! Ucap Rudy.
Dengan mendayung lambat (maklum kami semua sudah sangat lelah) akhirnya kami tiba di lokasi finish. Diiringi canda kami berjalan gontai menuju mobil yang membawa kami ke base camp.
Pada suatu ketika, ada tiga orang sedang dalam perjalanan tiba-tiba mereka ditimpa hujan lebat karena itu mereka masuk ke dalam gua sebuah bukit. Tiba-tiba dari puncak bukit jatuh sebuah batu besar sehingga menutup rapat pintu gua itu dan membuat mereka terkurung di dalam gua tersebut (tidak dapat keluar). Maka berkata mereka sesamanya, “marilah kita berdoa dengan mengingat kebaikan yang telah kita lakukan karena mencari keridhaan Allah”. Semoga karena amal kebaikan kita الله akan membukakan pintu gua ini untuk kita.
Kemudian berdoalah orang pertama: ‘Ya الله, aku mempunyai dua orangtua yang keduanya sudah renta, seorang isteri dan beberapa orang anak yang masih kecil-kecil yang kesemuanya menjadi tanggunganku. Bila aku pulang dari mengembala, kuperas susu untuk mereka dan yang pertama kuberikan ialah ibu bapakku yang sudah renta setelah itu baru kuberikan kepada anakku. Pada suatu hari aku terlambat pulang ke rumah dari mencari kayu bakar, ketika sampai di rumah kulihat kedua orang tuaku sudah tertidur. Seperti hari-hari sebelumya kuperas susu lalu kubawa kepada kedua orang tuaku. Aku berdiri didekat kepala meraka tetapi aku tidak tega membangunkan meraka dari tidurnya yang lelap. Walaupun anak-anakku yang masih kecil itu menangis namun aku tidak memberikan susu itu kepada anak-anakku sebelum kedua orang tuaku meminumnya terlebih dahulu. Demikianlah aku dan isteriku senantiasa dalam keadaan demikian sampai terbit fajar (menunggu kedua orang tuaku terbangun). Wahai Rabb, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku berbuat demikian karena mencari ridha-Mu, maka tolonglah bukakanlah pintu gua ini supaya kami dapat melihat cahaya!’. Ternyata الله mendengar doa orang yang pertama dan membukakan pintu gua itu sedikit sehingga mereka bertiga dapat melihat cahaya.
Kemudian berdoalah orang kedua: ‘Ya الله, aku mempunyai seorang paman dan pamanku itu mempunyai seorang anak gadis yang cantik. Aku sangat mencintainya seperti cinta seorang laki-laki kepada wanita. Ketika aku hendak melamarnya untuk menjadi isteriku dia menolak pinanganku sebelum aku menyerahkan kepadanya seratus dinar sebagai mahar. Dengan usahaku akhirnya aku berhasil mengumpulkan seratus dinar sebagai mahar untuknya. Suatu hari aku berkunjung ke rumah pamanku dan kudapatkan anak gadisnya itu seorang diri. Ketika aku hendak menyetubuhinya, dia berkata kepadaku Wahai Abdullah, takutlah engkau kepada الله! janganlah engkau membuka cincin (kegadisan) ini dengan cara yang tidak halal. Mendengar kata-katanya itu aku langsung pergi meninggalkannya. Wahai Rabb, Engkau Maha mengetahui bahwa aku melakukan itu karena aku mencari ridha-Mu karena itu mohon bukakanlah pintu gua ini sehingga kami dapat melihat langit!’.
Dan ternyata doa orang kedua itu kembali didengar dan di’ijabah oleh الله sehingga pintu gua itu terbuka sedikit sehingga mereka bertiga dapat melihat langit.
Dan berdoalah orang ketiga: "Wahai الله, aku pernah mempekerjakan seseorang untuk membuat peti yang digunakan sebagai tempat padi. Ketika pekerjaannya sudah selesai dia meminta upah kepadaku lalu kuberikan kepadanya benih padi karena aku berpikir benih itu dapat bermanfaat untuknya. Namun ia menolak untuk menerimanya dan ia pergi meninggalkanku. Setelah ia pergi benih padi yang awalnya akan kuberikan akhirnya aku tanam. Setelah padi itu panen hasilnya aku belikan sapi dan aku gembalakan. Setelah beberapa tahun jumlah sapi yang aku gembalakan semakin banyak. Suatu hari seseorang yang pernah bekerja membuat peti itu datang kembali menemuiku. Kemudian ia berkata: Takutlah engkau kepada الله!! Janganlah engkau mengambil yang bukan hakmu!. Lalu aku menjawab Pergilah ke padang rumput tempat gembala sapi-sapi itu lalu ambil sapi-sapi itu semuanya. Lalu orang itu berkata kembali Takutlah kepada الله dan jangan memperolokkanku!. Jawabku kembali Aku tidak memperolokkanmu! Ambillah sapi-sapi itu semuanya dan gembalakanlah untukmu!. Lalu diambilnya sapi-sapi itu semuanya kemudian ia berlalu pergi. Wahai الله, tentu Engkau tahu bahwa aku berbuat demikian karena aku mencari ridha-Mu! Karena itu bukakanlah pintu gua ini seluruhnya sehingga kami dapat kembali berbuat kebaikan untuk mencari ridha-Mu.
Dan doa orang ketiga itu juga didengar dan kembali di’ijabah oleh الله sehingga pintu gua itu terbuka dan mereka bertiga dapat keluar.
Doa, hanya itu solusi ketika kita merasakan kesulitan dalam menjalani hidup. Berdoalah kepada-NYA dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat demi mencari keridhaan-NYA. Ingatlah kembali kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan saat kita sujud kepada-NYA, Saat diri kita merasa begitu rendah dihadapan-NYA. Jangan pernah menyebutkan kebaikan yang telah kita lakukan kepada manusia karena itu semua dapat menyebabkan kita terperosok dan mengharapkan pamrih dari manusia tetapi sebutkanlah kebaikan-kebaikan kita hanya kepada الله 'Karena keajaiban itu ada'.
Dikutip dari kitab Shahih Muslim dari hadits riwayat Abdullah bin 'Umar.
Alam dengan segala tantangannya, segala keindahannya, segala pesonanya, memberikan media bagi jiwa manusia untuk dekat dengan “Sang kebenaran mutlak”, hanya karena alam mempunyai aura tersendiri yang memancarkan kodrat illahi. Pesona yang terdapat di alam itu membuat sebahagian orang untuk mencoba lebih dekat dengan alam. Seperti yang di tulis oleh Kahlil Gibran dalam prahara “Aku mencari kesunyian karena di dalam kesunyian terdapat kehidupan jiwa dan pikiran, hati dan raga. Aku mencari hutan belantara karena disana aku menemukan cahaya matahari, harum kembang, gemercik sungai. Aku mencari pegunungan karena disana aku temukan kebangkitan musim semi, kerinduan musim panas, nyanyian musim gugur dan kekuatan musim dingin. Aku datang ke biara sunyi ini karena aku ingin mengetahui rahasia alam semesta dan mendekati singgasana Tuhan” (Kahlil Gibran, Bagi Sahabatku Yang Tertindas).
Pecinta alam jika diartikan, berasal dari kata cinta dan alam. Cinta mengandung arti menyukai, menyayangi, dan mengagumi. Alam mengandung arti segala yang ada di sekitar, baik berupa benda mati ataupun benda hidup. Sehingga dari kata cinta menjadi pecinta yang menunjuk kepada subyek yaitu orang. Sampai saat ini belum ditemukan definisi yang jelas tentang pecinta alam. Sebab kata pecinta alam itu mengandung pengertian yang sangat luas. Hal ini selalu menjadi perdebatan yang hangat dalam setiap pertemuan tahunan secara nasional dalam Temu Wicara dan Kenal Medan ( TWKM) Mahasiswa Pecinta Alam Se-Indonesia atau pada Gladian Nasional Pecinta Alam Indonesia. Sehingga forum tersebut juga tidak bisa merumuskan pengertian dari istilah Pecinta Alam, sehingga definisi pecinta alam akhirnya dikembalikan kepada organisasi/kelompok masing-masing dalam menginterpretasikan istilah tersebut.
Meskipun sampai sekarang belum ada yang bisa merumuskan istilah Pecinta Alam, namun jika dilihat dari kegiatannya dapat dibedakan dalam dua kelompok yakni : Kelompok pertama adalah mereka yang hanya menggeluti kegiatan alam bebas dengan misi untuk menyalurkan hobi dan minat berpetualang di alam bebas. Kegiatannya meliputi pendakian gunung, pemanjatan tebing, mengarungi jeram di sungai, mengeksplorasi keindahan bawah laut, menyusuri kedalaman dan kegelapan gua, dll.
Kedua, kelompok yang selain melakukan kegiatan petualangan, juga melakukan kegiatan yang berorientasi pada penyelamatan lingkungan hidup, sehingga pada perkembangannya kegiatan kepencintaalaman menjadi semakin luas. Selain berpetualang mereka juga melakukan konservasi alam, pengamatan sosial-ekonomi-budaya masyarakat, hingga operasi SAR. Kelompok inilah yang paling banyak dilakukan oleh organisasi/kelompok mahasiswa pecinta alam. Banyak sudah korban dalam kegiatan menantang maut namun penuh cinta kasih ini, demikian juga dharma bakti mereka pada tanah tercinta ini dalam hal konservasi alam (meski tidak tercatat dalam buku sejarah).
Namun apakah istilah pecinta alam itu hanya untuk mereka yang melakukan aktifitas berpetualang?
Apakah pecinta alam itu hanya untuk mereka yang telah mengikuti program pendidikan dan latihan dasar dalam sebuah organisasi?
Seorang ibu yang menyiram bunga di pagi dan sore hari, seorang yang menyapu jalan, seorang yang mendaur-ulang barang plastik, seorang yang menanam mangrove di pinggir pantai, bisakah mereka disebut pecinta alam?
Bersatunya manusia dengan alam ini adalah sebuah simbiosis yang membuat manusia menemukan kebenaran sejati. Gua Hiro di bukit cahaya (Jabal Nur) merupakan saksi sejarah dimana seorang manusia diangkat menjadi manusia sempurna sementara masyarakat pada masa itu berada pada titik balik kodrat kemanusiaannya.
Siapapun anda, cobalah untuk lebih dekat dengan Alam karena pada hakikatnya dapat menjadikan jiwa untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta “Sang Pemilik kebenaran mutlak”.
Pagi yang cerah, hari ini schedule kelas dua field trip ke Paparons Pizza. Kelas dua Al-Faraby (kelas tempat dimana aku mendidik dan mengajar di sekolah ini) ada satu anak yang tidak masuk dan tidak ada keterangan dari orangtuanya. Tepat jam 7 morning meeting dimulai, murid-murid Al-Faraby sudah tidak sabar menanti untuk segera pergi ke paparons pizza karena kegiatan field trip kali ini yaitu membuat pizza.
Oke....hanya anak shaleh yang diajak pergi ke paparons pizza, ucap bunda Ria (partner aku di kelas dua). Sebuah shock therapy yang bertujuan agar murid khusyu dalam berdoa dan mencoba mengingatkan mereka akan peraturan kelas.
Shock therapy agar mereka lebih tertib dalam belajar, padahal itu tidak selamanya baik dilakukan karena secara tidak langsung kita mengajarkan anak terpaksa dalam mematuhi peraturan kelas (bukan karena kesadaran hatinya).
Good morning students....sapaku kepada anak-anak.
Hari ini kita akan belajar dimana ya?? tanyaku.
Kita akan pergi ke paparons pak Amin!! teriak anak-anak kepadaku.
Baik...kita akan belajar bagaimana cara membuat pizza di paparons, tapi ingat....kita harus membuat aturan dalam kegiatan di paparons. Bagaimana??...teman-teman setuju? tanyaku kepada anak-anak.
Setuju pak Amin!!! teriakan kompak dari murid-murid yang membuat telingaku sedikit sakit.
Baik....silahkan teman-teman yang membuat peratuarannya, ucapku.
Tetap bersama kelompok, ucap Jade (salah satu murid yang aktif di kelas).
Tidak bercanda, sopan, dan selalu menggunakan name tag, ucap Bakhita (murid laki-laki yang mempunyai badan cukup besar).
Tapi masih ada yang kurang, ucap bunda Ria.
Apa itu, tanya anak-anak.
Harus patuh kepada pembimbing di paparons nanti.
Baik...kami setuju...teriak semangat anak-anak.
Kira-kira jam 09.30 kami tiba di paparons pizza, kedatangan kami segera disambut hangat oleh pengelola.
Assalamu'alaikum semuanya......ucap salah seorang pembimbing (wanita yang berwajah elok) kepada anak-anak.
Wa'alaikumsalam.....kaka, jawab anak-anak yang sekali lagi dengan berteriak.
Sudah siap belajar membuat pizza? siap untuk mematuhi peraturan? tanya pembimbing yang sama.
Siap....Ka, jawab anak-anak.
Baik, tapi tidak semua teman-teman bisa langsung membuat pizza. Kaka akan memilih 10-12 orang untuk bisa langsung membuat pizza. Untuk teman-teman yang menunggu bisa mewarnai gambar yah....ucap pembimbing. Ya...untuk anak-anak, mereka harus bersabar untuk penantian membuat pizza. Tidak mungkin semua anak bisa langsung masuk ke dalam dapur paparons, karena kapasitas dapur dengan jumlah anak tidak sebanding. Karena selain kelas 2 Al-Faraby ada juga kelas 2 Al-Idrisy yang melakukan kegiatan yang sama.
Di dalam dapur paparons, murid-murid begitu senang. Mereka sangat menikmati pembelajaran membuat pizza pada hari ini. Sebelum membuat pizza terlebih dahulu anak-anak dikenalkan dengan nama alat yang digunakan untuk proses pembuatan pizza.
Aduh....kenapa sih nama alat-alatnya susah banget, ucap salah seorang murid.
Akhirnya...semua murid membuat pizza masing-masing, banyak hal yang bisa diambil dalam pembelajaran hari ini, karena pada hakikatnya pembelajaran tidak selalu dilakukan di dalam kelas. Kegiatan belajar melalui field trip ini sangat cocok dengan ungkapan;
kami dengar....kami lupa,
kami lihat....kami ingat,
kami melakukan...kami paham.
Belajarlah dimana saja, kapan saja, tidak terbatas ruang.
Menjadi pembelajar sejati....belajar sepanjang hayat!!